Wali Murid Ngeluh, Beli Buku Mapel Mahal - PT Berantas Sumsel Media

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 04 Oktober 2023

Wali Murid Ngeluh, Beli Buku Mapel Mahal



// Sekolah Bantah Buku Mapel Diperjual Belikan


PRABUMULIH, BS.ID - Sejumlah wali murid di SMAN 3 Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengeluh akibat mahalnya beli buku mata pelajar (mapel) bagi anak-anak mereka.


Dimana, terlebih lagi buku yang dibeli wali murid dengan harga cukup pantastis, yakni sekitar 100 ribuan per buku mata pelajaran. Itupun buku yang dibeli bukan berasal dari pihak SMAN 3. Melainkan para wali murid harus mencari di luar sekolah, yang sesuai dengan tingkatan kelas siswa dan kurikulum belajar di sekolah tersebut.


Menurut para wali murid, sangat disayangkan mengapa buku mata pelajaran, khususnya kelas X tidak disiapkan dari pihak sekolahan. Apalagi, pembelian setiap buku pelajaran tersebut bisa diambil sekolah dari dana bantuan operasional sekolah (bos) setiap tahun. Dengan demikian, hal ini tak membebani wali murid, terkhusus bagi wali murid yang tidak mampu.

"Anak saya baru masuk tahun ini di SMAN 3. Saya bingung soal buku mata pelajaran harus beli. Harganya pun 100-an per bukunya," aku pria yang enggan disebutkan namanya, kepada Berantas Sumsel (BS).ID, belum lama ini.


Dimana semua buku mata pelajaran siswa dari kelas X, XI dan hingga XII di sekolah itu semestinya dibeli pihak sekolahan dengan bersumber dana bos. Artinya, siswa cuma pinjam pakai setiap tahun.

"Nah, kalau seperti ini cukup membebani saya dan wali murid tak mampu lainnya. Apa gunanya dana bos yang ada," keluh lelaki yang berdomisili di Perumahan CPI, Kelurahan Gunung Ibul (GI) Kecamatan Prabumulih Timur ini.


Ia menambahkan, bukan tidak mau membeli belasan buku mata pelajar anaknya kelas X tersebut. Mengingatkan, saat ini penghasilan dari usaha merosot tajam. Jangan buat biaya sekolah anaknya. Buat memenuhi kebutuhan rumah tangga dinilai cukup sulit.

"Ada cara lain biar anak saya dapat semua buku mapel itu. Dengan cara memphoto copyan saja. Tetapi, biaya photo copynya hampir sama dengan harga buku aslinya. Ya, demi anak jangan sampai malu dan minder sama kawan-kawannya, terpaksa juga buku itu saya belikan juga," keluh lelaki dua anak itu.


Selain terkait soal buku mata pelajaran, lanjut dia, soal sumbangan sebesar Rp 400 ribu juga sama halnya dikeluhkan pria berkulit sawo matang tersebut.

"Itu sumbangan wajib setiap bulan. Darimana saya dan wali murid lain mencari uang sebesar itu," cetusnya seraya menyebutkan uang tersebut tidak tahu akan dipergunakan sekolah buat kegiatan apa.

"Kan di sekolahan itu ada komite. Minta komite saja yang mencari anggaran di luar sekolah kalau ada kegiatan atau event di sekolah itu," imbuh lelaki berdarah jawa ini.


Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Kota Prabumulih, Freni Listyan SPd, MSi, dibincangi media ini, Rabu (4/10/2023), membantah jika seluruh buku mata pelajaran 600-an muridnya dibebani kepada wali murid/siswa kesangannya.

"Tidak benar informasi seperti yang disampaikan oknum wali murid tersebut. Buku mata pelajar kita pinjam pakai semuanya kepada mereka (siswa, red) kita," tegas wanita mantan Wakil Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Waka Humas) SMAN 6 Bumi Seinggok Sepemunyian tersebut.


Begitu pun pula sebaliknya menyangkut simpang-siur masing-masing murid wajib membayar uang komite sebesar Rp 400 ribu perbulannya.

"Nah, kalau sebesar itu namanya banyak uang SMA kita dek. Tidak benar itu. Sementara buat suatu kegiatan sumber pendanaannya kita cuma mengandali komite kami semata," terang perempuan berjilbab tersebut.


Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan agar oknum wali murid kalau berbicara harus ada dasar dan bukti lengkap. Jangan sampai memberikan informasi, yang tak jelas kebenarannya.

"Sehingga hal itu tidak merusak nama sekolah. Apalagi kita disini mati-matian mendidik anak-anak dan kemajuan sekolahan ini. Jangan sampai dirusak oleh isu-isu miring tiada jelas alias tidak benar," tukasnya.


Lanjutnya, jika informasi tersebut tidak benar disampaikan oknum wali murid. Kalau mau, pihaknya bisa saja tempuh lewat jalur hukum. Namun, pihaknya juga harus ada bukti akurat terkait hal ini.

"Janganlah seperti itu. Kalau ada masalah bisa kita selesaikan secara baik-baik. Disini juga banyak murid tidak mampu. Jelas kita paham dan mengerti soal kriteria murid kurang mampu. Itu hal dengan berpedoman aturan dari pemerintah," tambah mantan Kepsek SMAN 1 Kota Prabumulih tersebut tahun depan penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur umum dilaksanakan pihaknya lewat ujian tes tertulis dan ditambahi nilai raport murid barunya. (BN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here